Tanggal 26 Nopember 2012 adalah pertama kali saya pergi untuk naik gunung, dan bayangin yang ngajak bukan teman laki-laki melainkan teman perempuan..
dan Berhubung saya sudah sangat ingin untuk merasakan naik gunung jadi tanpa pikir panjang saya pun mengiyakan..
Rencana Awal Berangkat setelah jum'atan, kumpul di siklus (nama sebuah UKM di ITS) untuk mempersiapkan semua keperluan dan peralatan, Tetapi semua itu berubah ketika negara api menyerang.. LHO...??? salah..
Tetapi semua itu berubah ketika saya mengatakan "Bu, saya naik gunung dengan 2 orang perempuan"...
dan seketika itu semua elemen keluarga saya berubah menjadi elemen panitia dan levelnya pun naik secara mendadak, dan itu sama sekali tidak smooth perubahan levelnya..
Tetapi semua itu berubah ketika saya mengatakan "Bu, saya naik gunung dengan 2 orang perempuan"...
dan seketika itu semua elemen keluarga saya berubah menjadi elemen panitia dan levelnya pun naik secara mendadak, dan itu sama sekali tidak smooth perubahan levelnya..
Setelah berdiskusi lebar dan panjang akhirnya orang tua saya memperbolehkan saya naik gunung dengan catatan ketika ada sinyal harus telpon rumah...(=_=)" #Ibu anakmu ini sudah besar#..
dan saya langsung mengiyakan saja... => menghindari naik level lagi...
dan saya langsung mengiyakan saja... => menghindari naik level lagi...
dan karena itulah saya datang telat...
akhirnya kami berangkat sore hari sekitar pukul setengah 5 sore, ketika itu kami memutuskan untuk naik kereta dan beruntung sekaligus sialnya kereta ini merupakan kereta terakhir menuju malang, dan berangkatnya pun pukul 18.45..
akhirnya kami berangkat sore hari sekitar pukul setengah 5 sore, ketika itu kami memutuskan untuk naik kereta dan beruntung sekaligus sialnya kereta ini merupakan kereta terakhir menuju malang, dan berangkatnya pun pukul 18.45..
Tidak lama kemudian kereta yang kami tunggu datang, kami pun mengambil tempat duduk tidak sesuai dengan nomor penumpang karena ketika itu malam dan kereta sedang sepi sekali,..
Di tengah perjalanan ada sepasang penumpang yang seharusnya duduk di tempat duduk kami tetapi kami dengan tanpa lugu, dan sedikit bengong tidak mau pindah dan akhirnya mereka berdua duduk tepat di hadapan kami...
awalnya saya mengira pasangan ini sedang bertengkar, bayangkan yang laki-laki menatap tajam ke depan, sedang yang wanita menatap kea rah berbeda dengan pandangan yang kosong, dan dalam pikiran saya kalau saya ajak ngomong orang ini pasti ngamuk atau mungkin nih kursi kereta bisa hancur...
tapi lucunya ketika teman saya Sri dan Mega mencoba membuka percakapan ternyata mereka berdua itu sangat ramah, dan pandangan si wanita tersebut kosong bukan karena dia sedih atau apa tetapi dia mengantuk, pasangan tersebut sangat ramah mereka berdua memberitahu kami bagaimana menuju ke kaki gunung semeru..
awalnya saya mengira pasangan ini sedang bertengkar, bayangkan yang laki-laki menatap tajam ke depan, sedang yang wanita menatap kea rah berbeda dengan pandangan yang kosong, dan dalam pikiran saya kalau saya ajak ngomong orang ini pasti ngamuk atau mungkin nih kursi kereta bisa hancur...
tapi lucunya ketika teman saya Sri dan Mega mencoba membuka percakapan ternyata mereka berdua itu sangat ramah, dan pandangan si wanita tersebut kosong bukan karena dia sedih atau apa tetapi dia mengantuk, pasangan tersebut sangat ramah mereka berdua memberitahu kami bagaimana menuju ke kaki gunung semeru..
setelah sampai di malang kami turun, dan kami berjalan ke lampu merah untuk mencari kendaraan umum menuju tumpang, tetapi pada saat itu pukul menunjukkan pukul 22.00 dan mana ada angutan umum, dan sudah kami putuskan bahwa malah ini kami bermalam di masjid...
Esoknya kami di bangunkan oleh penjaga masjid, dan shalat subuh berjamaah...
dan segera berangkat menuju tumpang, sampai disana untungnya kami bertemu dengan pendaki yang lain dan mengajak kami untuk sama-sama menuju ranu pani (Desa di Kaki Gunung Semeru) dengan menggunakan truck sayur, setelah sampai di Ranu Pani kami segera mengurusi masalah surat dan perijinan pada penjaga, sebelum nantinya berangkat ke Ranu Kumbolo..
Oh ya, nama pendakinya itu mas Onni, Mas Rizal, Mas Magis, dan satu lagi perempuan yang saya lupa namanya..
Esoknya kami di bangunkan oleh penjaga masjid, dan shalat subuh berjamaah...
dan segera berangkat menuju tumpang, sampai disana untungnya kami bertemu dengan pendaki yang lain dan mengajak kami untuk sama-sama menuju ranu pani (Desa di Kaki Gunung Semeru) dengan menggunakan truck sayur, setelah sampai di Ranu Pani kami segera mengurusi masalah surat dan perijinan pada penjaga, sebelum nantinya berangkat ke Ranu Kumbolo..
Oh ya, nama pendakinya itu mas Onni, Mas Rizal, Mas Magis, dan satu lagi perempuan yang saya lupa namanya..
di atas mas rizal tidak ada karena dia yang mengambil gambar..
Setelah administrasi selesai dan perut sudah terisi kami mulai berangkat mendaki, tetapi disana kami berpisah karena mas rizal dan mas onni masih sibuk untuk menawar harga porter (semacam pembawa barang, tapi ini untuk naik gunung) karena tujuan mereka berdua adalah puncak gunung Semeru yaitu Mahameru..
OK it's time..
saya berlima naik gunung, setelah mulai berjalan beberapa menit saja kami sudah kelelahan (maklum baru pertama kali) dan akhirnya kami memutuskan berpisah dengan mas magis, normalnya orang biasa menuju ranu kumbol hanya di perlukan waktu 3-4 jam (itu sudah suantai banget) kami hampir memerlukan waktu hingga 5 jam (bayangin sauantainya kayak gimana) tapi di situ kami memperoleh banyak pengalaman..
| Add caption |
10,5 Km jalan yang kami bertiga tempuh selama hampir 5 jam, mendaki bukit, menuruni bukit, memutari gunung-gunung kecil, melewati batu besar, menunduk karena ada pohon tumbang, serta melintasi jembatan dan dengan membawa tas yang beratnyapun tidak enteng tetapi sama sekali tidak terpintas di pikaran kami untuk kembali dan menyerah kami terus melangkahkan kaki kami membuat jejak kami walaupun perlahan-lahan, bahkan walaupun kami tahu kami bertiga sudah lelah tapi kami menjalaninya sangat senang, dan semua rasa lelah, sakit di pundak karena membawa beban berat menjadi Hilang seketika, ketika kami telah mendaki di atas salah satu bukit dan melihat ini...
Inilah dia...
ini yang tempat yang kami tuju...
salah satu Ciptaan Allah bagi hambanya...
Ranu Kumbolo..
Rasa lelah selama hampir 5 jam kami rasakan itu hilang, hanya dengan melihat ini...
kamipun segera menuju tempat perkemahan dan segera mendirikan tenda..
Dan diluar dugaan kami, ternyata banyak yang mendirikan tenda disana..
Setelah selesai dengan urusan mendirikan tenda dan sebagainya, saatnya kita makan..
semua bahan makanan kami keluarkan dan karena saya tidak begitu pintar memasak maka saya menyerahkan pada kedua teman wanita saya, dan ini lah hasil masakan mereka.
Pertama kali saya melihat ini sih saya kaget..
itu yang ada bulat-bulat ngambang warna coklat itu dinamai "SOP" oleh kedua teman saya padahal bahannya hanya Sosis yang diiris-iris serta wortel yang di iris tebal-tebal, dan yang ada di pirng itu adalah oseng-oseng tempe, bayangin tempe ketika hari kamis yang sudah agak "benyek" itu di cacah di beri potongan cabe dan di goreng...
dan ada satu bahan yang sangat sering di gunakan dan bahkan wajib digunakan untuk menambahkan rasa pada makanan yaitu GARAM, karena tanpa garam semua itu hambar rasanya..
Malam akan segera datang, karena saya adalah satu-satunya laki-laki pada rombongan itu niatan saya ingin mencari kayu bakar, tetapi itu tidak bisa karena waktu sudah terlanjur terlalu sore, dan alhasil kami bertiga semua kedinginan pada malam harinya...
Malam akan segera datang, karena saya adalah satu-satunya laki-laki pada rombongan itu niatan saya ingin mencari kayu bakar, tetapi itu tidak bisa karena waktu sudah terlanjur terlalu sore, dan alhasil kami bertiga semua kedinginan pada malam harinya...
beruntungnya tenda sebelah kami sangat baik, mereka mengajak bergabung di api unggunnya.. #akhirnya selamat dari kedinginan..
Malam itu saya tidak bisa tidur..
bayangkan dalam jaket biru yang saya kenakan di dalamnya sudah ada 3 lapis baju dan ditambah sweater dan saya masih saja kedinginan, dan saya memutuskan untuk tidak tidur dan ikut nimbrung dengan orang-orang yang tidak kenal di dekat api unggun..
Malam itu saya tidak bisa tidur..
bayangkan dalam jaket biru yang saya kenakan di dalamnya sudah ada 3 lapis baju dan ditambah sweater dan saya masih saja kedinginan, dan saya memutuskan untuk tidak tidur dan ikut nimbrung dengan orang-orang yang tidak kenal di dekat api unggun..
dan disinilah saya merasakan apa yang sesungguhnya di Cari oleh para pendaki selain tempat yang indah pada puncak gunung , lembah, atau pun pada pedalaman hutan yaitu...
"KEBERSAMAAN, KEKELUARGAAN, dan HANGATNYA API UNGGUN"
saya ingat ada sekitar 8 orang termasuk saya yang mengitar api unggun itu, dan semua punya latar belakang yang berbeda, ada yang sudah bekerja, ada yang masih kuliah, ada yang masih SMA, dan ada juga yang tidak ngapa-ngapain (baca:nganggur), tapi sepertinya itu semua melebur jadi satu di dalam api unggun disana kami banyak sekali bercerita masalah kehidupan, cerita tentang misteri, cerita tentang latar belakang masing-masing, bahkan waktu itu ada yang sedang galau dan diapun tidak sungkan untuk bercerita, kami semua mendengarkan, kami semua menghargai, dan kami semua selalu saling memotivasi satu sama lain, padahal kami baru saja bertemu di api unggun itu..
Hari semakin larut, kabut pada Ranu Kumbolo sudah mulai turun, air pada danau sudah mengeluarkan asap pertanda suhu sudah mulai menurun drastis, tapi kami berdelapan sibuk dengan gurauan dan canda kami, semua orang sangat aktif, tidak ada yang namanya berdiam diri, karena terbawa suasana yang hangat dan sangat bersahabat sekali..
dan akhirnya salah satu dari kami berinisiatif untuk membuat kopi, dia membuat kopi 1 cangkir saja tapi kopi yang di masukkan setara dengan 3 sachet kopi bungkusan, air yang di ambil pun air pada danau di dekat kami menyalakan api Unggun, dan secara serentak beberapa orang dari kami tiba-tiba pergi ke tenda masing-masing, dan kembali dengan membawa jajanan yang ada pada tendanya, seakan kita semua disini sudah menjadi keluarga dan barang milikku juga barang milikmu...
akhirnya Secangkir Kopi itu selesai di buat, dan cangkir itu mulai berputar ke tiap orang yang di api unggun itu, dan yang membuat saya berpikir kenapa kopi ini masih bisa berputar setelah 2 putaran dan kalau dihitung Secangkir Kopi ini sudah melewati 16 orang tetapi masih tetap bersisa, saya pun mencoba tanya dengan nada yang bercanda...
akhirnya Secangkir Kopi itu selesai di buat, dan cangkir itu mulai berputar ke tiap orang yang di api unggun itu, dan yang membuat saya berpikir kenapa kopi ini masih bisa berputar setelah 2 putaran dan kalau dihitung Secangkir Kopi ini sudah melewati 16 orang tetapi masih tetap bersisa, saya pun mencoba tanya dengan nada yang bercanda...
saya : "heh, lapo kok ngombe kopimu titik...?"
teman saya :"gak po2 lah, ben ke bagian kabeh kopine, trus mungkin sebelahku iki koyok'e kademen kok..
teman saya :"gak po2 lah, ben ke bagian kabeh kopine, trus mungkin sebelahku iki koyok'e kademen kok..
JLEEBBBB.....
Rasanya dada ini kayak di tusuk tugu pahlawan, saya gak pernah mikir sejauh itu, yang saya pikirkan saya sungkan kalau minum banyak-banyak, tapi yang teman saya pikirkan ada yang lebih membutuhkan ini di bandingkan diri saya sendiri, bayangkan padahal kami berdelapan baru saja kenal saat api unggun ini dinyalakan tetapi teman saya sudah berpikiran seperti itu..
Tidak terasa dari pukul 10 malam hingga menjelang subuh kami lewati dengan bercanda dan berbagi cerita tentu saja di temani secangkir kopi hangat dan beberapa jajanan, serta tidak lupa di tutup dengan menyanyi lagu paling HITS di Ranu Kumbolo yaitu MAHAMERU karya dewa 19.. (^_^)
Tidak terasa dari pukul 10 malam hingga menjelang subuh kami lewati dengan bercanda dan berbagi cerita tentu saja di temani secangkir kopi hangat dan beberapa jajanan, serta tidak lupa di tutup dengan menyanyi lagu paling HITS di Ranu Kumbolo yaitu MAHAMERU karya dewa 19.. (^_^)
Fajar mulai meninggi, kabut sudah mulai menghilang dan dinginnya Ranu Kumbolo sudah mulai menjadi hangat, sudah waktunya kita pulang..
akhirnya kami pulang ke kota pahlawan...
banyak yang kami peroleh dari pengalaman ini yang mungkin tidak bisa kami sebutkan satu persatu...
Oh ya ini merupakan etika para pendaki dimanapun mereka mengijakkan kakinya:
Jangan ambil apa pun kecuali gambar
Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak kaki
Jangan membunuh apapun kecuali waktu
ini foto-foto saya dan kawan-kawan disana..
| |
amin..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar